Format Dua Pertandingan Dalam Dua Hari: Apakah Sudah Ideal?

Format Dua Pertandingan Dalam Dua Hari: Apakah Sudah Ideal?

Sebelum tahun 2016, kompetisi liga professional Indonesia sempat menerapkan format seri dimana pada setiap seri, tim-tim peserta harus melakoni pertandingan selama 4 atau 5 hari berturut-turut. Sejak MNC TV dating dengan siaran televisinya, jadwal pertandingan berubah menjadi Sabtu-Minggu.

Ini tentu perubahan yang positif, tak hanya bagi penonton yang dulu sulit menonton pertandingan yang digelar di hari kerja, tapi juga bagi pemain yang dulu seakan diperas tenaganya untuk bermain 4 atau 5 hari berturut-turut.

Menurut Agung Dwi Juniarsyah, mantan pemain futsal professional yang sudah menyelesaikan studi S2 di bidang Sport Science Institut Teknologi Bandung (ITB), menilai sistem dua hari pertandingan yang sekarang digunakan sudah baik, tapi belum cukup ideal.

Kebetulan, tesis yang dilakukan oleh Agung mengangkat permasalah ini dan mantan pemain FKB, Biangbola dan Timnas Futsal ini menemukan bahwa bermain dua pertandingan dalam dua hari, tanpa disertai jeda, berpengaruh pada performa para pemain, khususnya di pertandingan hari kedua.

Berikut pandangan Agung mengenai format pertandingan Liga Pro saat ini dan bagaimana untuk menjadikannya lebih baik:

“Indikator kelelahan yang digunakan adalah asam laktat. Asam laktat adalah produk hasil metabolisme karbohidrat tanpa menggunakan oksigen. Saat olahraga permintaan oksigen melebihi suplai sehingga timbul metabolisme anaerob yang menghasilkan asam laktat.

Setelah membandingkan asam laktat dihari pertama dan kedua, terjadi peningkatan asam laktat dihari kedua khususnya setelah babak pertama usai, dan sebelum babak kedua dimulai. Menunjukkan terjadi kelelahan yang lebih tinggi dihari kedua dirasakan oleh pemain professional.

Memang, tidak ada pengaruh signifikan bagi pemain profesional bila dilakukan pertandingan berdekatan, selain memiliki kondisifisik yang prima, pengalaman bertanding yang cukup lama, pemain juga telah terbiasa dengan sistem kompetisi yang padat. Akan tetapi dengan waktu istirahat yang cukup, performa akan lebih baik. Karakteristik olahraga permainan yang menuntut setiap pemainnya untuk bergerak secara konstan dan berpikir serta mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

Bila faktor internal telah dilaksanakan dengan baik, sekarang peran dari pemegang kebijakan yakni mendukung dilaksanakannya factor eksternal, dalam hal ini sistem kompetisi.

Bila membandingkan sistem kompetisi dengan negara lain, contohnya di Thailand, Iran, dan Spanyol. Pertandingan satu ke selanjutnya memiliki jeda minimal 3 hari, bahkan 7 hari. Beberapa penelitian menunjukan bahwa seseorang membutuhkan pemulihan 48 jam setelah aktivitas berat. Berdasarkan waktu istirahat tersebut seharusnya bisa menjadi bahan pertimbangan pelaksanaan kompetisi agar tercipta kompetisi yang lebih kompetitif, serta pemain mampu menampilkan kemampuan yang maksimal di setiap pertandingan.

Namun, untuk mewujudkan ini perlu dicarikan dukungan sponsor untuk pendanaan sebuah klub, karena bila kompetisi semakin panjang akan mengakibatkan pengeluaran semakin besar pula. Jangan sampai memaksakan, yang mengakibatkan pailit di tengah jalan dan akhirnya kompetisi tidak berjalan dengan baik. Target jangka pendeknya minimal pemain diberi jeda 1 hari ke pertandingan berikutnya, sedangkan untuk ke depannya pemain bisa istirahat 3 hari.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*

Lost Password